BISKUIT LUMMER TINGKATKAN PEMBELAJARAN BERDIPERENSIASI DI KABUPATEN DELI SERDANG

 


            




                STRATEGI BISKUIT LUMMER

DALAM MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIAS DI PAUD KABUPATEN DELI SERDANG

                                                Oleh

Sri Dewi Kesumaning Ayu, S.Pd., M.Si.

Penilik KB/Pengawas TK Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang

 

SITUASI

Pada awal tahun 2021 Kementerian Pendididikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan Kurikulum Merdeka yang menjadi angin segar dalam upaya perbaikan dan pemulihan pembelajaran di satuan pendidikan. Kemendikburistek juga mengeluarkan kebijakan bahwa bagi sekolah yang belum siap untuk menggunakan Kurikulum Merdeka masih dapat menggunakan Kurikulum 2013. Begitu juga Kurikulum Darurat yang merupakan penyederhanaan dari Kurikulum 2013, juga masih dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan pembelajaran oleh satuan pendidikan. Tegasnya, Kurikulum Merdeka merupakan salah satu opsi bagi semua satuan pendidikan yang siap melaksanakan dan menjalankan Kurikulum Merdeka.

Saat ini, mestinya semua Lembaga PAUD sudah menggunakan kurikulum merdeka baik secara mandiri maupun melalui sekolah penggerak. Karena Kurikulum Merdeka pada 2021 sudah diberlakukan bagi Sekolah Penggerak hingga sekarang. Kemendikburistek juga mendorong satuan pendidikan untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara mandiri dan bertahap. Satuan pendidikan dalam kesiapannya dapat menentukan pilihan Implementasi Kurikulum Merdeka sendiri yaitu Mandiri Belajar, Mandiri Berubah dan Mandiri Berbagi. Satuan Pendidikan diberikan kesempatan memberikan umpan balik (3 bulan) untuk menyesuaikan kebutuhan dan dukungan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Sehingga Implementasi Kurikulum merdeka ( IKM ) secara mandiri akan menjadi dasar dan tindak lanjut pada penerapan Kurikulum Merdeka kedepannya. 

Salah satu karakteristik yang terdapat dalam Kurikulum Merdeka adalah lebih menegaskan pembelajaran yang berpihak pada murid melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi mengakomodir kebutuhan belajar murid, dan guru sebagai fasilitatator, memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya. Karena setiap anak unik dan mempunyai karakteristik yang berbeda beda maka perlakuan yang diberikan harusnya berbeda juga.

Menurut Tomlinson (2001:45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap peserta didik. Oleh karna itu Pembelajaran berdiferensiasi untuk lebih menstimulasi aspek nilai agama moral, kognitif, bahasa fisik motorik, dan sosial emosional anak. Tentunya peran penilik sangatlah dibutuhkan dalam terlaksananya pembelajaran berdiferensiasi di lembaga PAUD.

Berdasarkan hasil kunjung kerja penulis selaku Penilik/Pengawas PAUD di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, lembaga PAUD sudah menerapkan kurikulum merdeka terutama pada Satuan Pendidikan yang terpilih sebagai Sekolah Penggerak. Pada umumnya Lembaga memilih Mandiri Belajar.

Selain itu, penulis melihat masih banyak anggota satuan pendidikannya belum mengaktifkan akun belajar.id sebagai kunci untuk masuk dalam platform PMM yang menjadi jembatan untuk pemahaman terhadap Kurikulum Merdeka Belajar. Lebih jauh lagi, penulis melihat pembelajaran di PAUD belum terpusat pada peserta didik dan belum mengakomodir kebutuhan murid. Pembelajaran masih terpusat pada guru. Dalam proses pembelajaran masih selalu penekanan pada calistung sesuai tuntutan orang tua. Kesiapan penerapan pembelajaran berdiferensiasi di lembaga PAUD pada Sekolah Penggerak maupun yang melaksanakan Implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri terlihat masih samar-samar, belum terlihat jelas.

Sebagai penilik dan pengawas pada Lembaga PAUD, tentu hal ini meresahkan penulis. Dan menjadi salah satu tanggungjawab penulis untuk dapat membersamai para guru dan kepala lembaga mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik. Menguatkan peran guru sebagai fasilitator agar kemerdekaan belajar peserta didik bisa tercapai, dan tumbuh kembang peserta didik 

bisa optimal. Untuk itu, perlu dilakukan upaya-upaya terencana dan berkelanjutan dalam meningkatkan kompetensi guru sebagai wujud implementasi kurikulum merdeka tersebut.

Upaya terencana yang penulis lakukan berupa Bimbingan Secara Kolaborasi Implementasi Kurikulum Merdeka dalam mewujudkan pembelajaran berdifrensiasi di PAUD dan penulis akronimkan menjadi BISKUIT LUMMER dalam mewujudkan pembelajaran berdifrensiasi di PAUD. Akronim ini penulis maksudkan untuk memudahkan dan memberi gambaran langsung pada proses . Hal ini juga penulis lakukan karena sudah menjadi solusi dari berbagai keresahan yang penulis ungkapkan sebelumnya.

Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan IKM dalam hal ini pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan secara bersama sama dan terlibat langsung secara kolaborasi mulai dari yayasan, kepala sekolah, orang tua, penilik/pengawas, guru, masyarakat bahkan peserta didikpun harus bersinergi untuk terwujudnya pembelajaran berdiperensiasi yang mengakomodir semua kebutuhan murid pada jenjang Pendidikan PAUD serta memberi gambaran tahapan yang dilakukan dan hasil yang dicapai.

 

TANTANGAN

Tidak mudah memang untuk mewujudkan dan menyamakan persepsi dalam penerapan pembelajaran yang berpihak pada murid. Terlebih lagi pada jenjang PAUD dimana tuntutan orang tua mengharapkan anaknya sudah dapat membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu, anggapan bahwa murid pada jenjang PAUD belum mandiri dan perlu diarahkan sesuai keinginan guru menjadi hal yang sudah terbiasa. Belum terbangunnya komunikasi antara guru, orang tua murid dan pihak sekolah secara Bersama membicarakan pola Pendidikan anak yang perlu diterapkan. Belum dilakukannya asesmen diagnostic nonkognitif sebagai Langkah awal pengenalan karakteristik murid. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi penulis untuk membersamai guru menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas 

             2 AKSI

Mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi pada jenjang Pendidikan anak usia dini di kecamatan Tanjung Morawa yang menjadi kewenangan penulis telah dilakukan hal-hal sebagai berikut.

1.   Sosialisai IKM dan Akun belajar

Kegiatan sosialisasi IKM dan akun belajar yang sudah difasilitasi kemdikbudristek dengan domain belajai.id, sebenarnya suatu keuntungan yang mestinya dimanfaatkan Lembaga Pendidikan khususnya guru terlebih diera digital seperti saat ini. Salah satu keuntungannya yaitu dapat menggunakan fasilitas penyimpanan yang tanpa batas. Selain itu, memudahkan akses ke dalam platform digital kemdikbudristek seperti Rapor Pendidikan, PMM, rumah belajar dan lainnya.

Melihat begitu pentingnya akun belajar ini dan berdasrkan kunjung kerja penilik pada satuan Pendidikan PAUD yang menjadi binaan penulis, maka penulis berinisisai mengajak organisasi mitra seperti IGTKI, HIMPAUDI,PKG dan IPI untuk duduk bersama berkolaborasi melaksanakan sosilisasi ini. Kemudian penulis mengajukan permohonan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang untuk mengizinkan penulis mensosialisasikan IKM dan akun ini. Dinas Pendidikan Deli Serdang kemudian menyurati Lembaga dan mengadakan sosialisasi IKM dan akun belajar ini pada tanggal 18 - 31 Agustus 2022 di 22 Kecamatan se Kab. Deli Serdang dimana penulis sebagai narasumbernya.

Pada kesempatan tersebut langsung dipraktekkan membuat akun belajar oleh operator lembaga dan peserta mengaktifkannya. Respon peserta saat itu, ternyata masih banyak yang belum mengetahui tentang akun belajar.id dan jika pun sudah memiliki masih banyak yang belum mengaktifkannya.

 

2.   Sosialisasi Platform Merdeka Mengajar 

Kinerja penulis sebagai penilik setelah melaksanakan sosialisasi akun belajar yaitu melaksanakan kunjung kerja ke Lembaga sekaligus memantau tentang pemanfaatan platform Merdeka Mengajar. Tindak lanjut dari kunjung kerja tersebut, penulis merasa perlu untuk diadakan sosialisasi pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar. Berkolaborasi Bersama teman penilik lainnya kami melakukan sosialisai PMM ini pada tanggal 09 September 2022 ber tempat di pada rapat IGTKI dan tanggal 20 September bertempat di KB Insan Madani pada rapat HIMPAUDI di Kec. Tanjung Morawa.

Selanjutnya kami mendorong agar para pendidik dapat melaksanakan pembelajaran secara mandiri melalui PMM tersebut dan mendorong pada pendidik untuk terus belajar. Para pendidik merespon dengan positif dan ditindaklanjuti dengan pelatihan mandiri . Selain itu, beberapa pendidik sudah melakukan aksi nyatanya, dan sudah berbagi paraktik baiknya pada pertemuan dilembaga binaan.

Tindakan kami selanjutnya sebagai wujud kolaborasi, yaitu pemantauan pembelajaran di kelas sebagai upaya mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Setelah adanya dialog dengan para pendidikn dan parapenilik lainnya, ternyata para pendidik masih banyak yang merasa kebingungan bagaimana penerapan pembelajaran berdiferensiasi, mengapa harus berdiferensiasi serta kesulitasn-kesulitan yang disampaikan pendidik jika pembelajaran tidak dilakukan secara serentak atau klasikal.

Berdasrkan hal itu, kami bersepakat untuk diadakan workshop penyusunan RPPH yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.

 

3.   Workshop penyusunan RPPH Pembelajaran berdiferensiasi

Selanjutnya dalam Kegiatan rutinitas rapat bulan PKG (Pusat kerja Gugus), penulis memberikan materi pembelajaran berdiprensiasi, dengan langkah awal menerangkan asesmen diagnostic nonkognitif sebagai langkah awal mengenali murid. Kegiatan ini dilaksanakan pada Tanggal 05 Oktober 2022 ber tempat di TK Pelita Kasih School Selanjutnya penulis mendiskusikan bersama peserta tentang pembelajaran berdiferensiasi dengan pendekatan konten, proses dan produk. 

 

Tahapan berikutnya penulis membersamai guru untuk menyususn RPPH yang mengakomodir pembelajaran berdifrensiasi. Secara umum tidak ada kesulitan dalam penulisan RPPH tersebut karena sudah ada penjelasan terlebih dahulu dan dilengkapi dengan contoh-contoh RPP dan video yang memuat pembelajaran berdiferensiasi Karena dilaksanakan secara berkelompok dan didiskusikan bersama. Setelah selesai pembuatan RPPH selanjutnya dianalisis oleh kelompok yang berbeda hasil kerja kelompok tersebut. Peserta sangat antusias dan melaksanakan penilaian RPPH dengan serius karena sudah ada instrumennya.

Pada kesempatan workshop tersebut, juga dilaksanakan simulasi mengajar dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan RPPH yang sudah dianalisis dan telah diperbaiki. Peserta yang tidak melaksanakan simulasi memberikan penilaian sesuai dengan instrument yang sudah dibuat bersama dan disediakan oleh kelompok yang mensimulasikan RPPH tersebut. Di akhir kegiatan penulis meminta guru membuat rencana tindak lanjut dalam penyusunan RPPH pembelajaran berdifrensiasi di sekolah masing-masing sesuai dengan real kelas yang dibimbingnya. Kegiatan workshop di tutup dengan refleksi. Hasil refleksi peserta memberi respon senang/suka dan menyampaikan pengalaman baru yang diperoleh saat workshop tersebut. Bapak Misriadi dari KB nurhumairah dari menyatakan bahwa beliau selama ini masih menyamaratakan pembelajaran untuk semua murid tanpa pernah melihat kesiapan, minat belajar dan profil belajar. Selain itu, guru belum pernah secara spesifik membuat asesmen diagnostic nonkognitif. Kesempatan pertemuan bulanan memberi kesan lebih bermakna, imbuhnya lagi.

 

4.   Pendampingan pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan diferensiasi dan berpihak pada Peserta didik

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan workshop yang telah dilakukan, sebagai

penilik , penulis berusaha merespon Kembali RTL yang telah dibuat guru. Bersama kepala KB/TK Methodis penulis mendiskusikan bersama guru sudah sejauh apa para pendidik menyiapkan RPPH nya dan apakah sudah mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi yang baru dipelajari pada perteman PKG yang lalu. Dari penjelasan kepala sekolah selanjutnya kami mensupervisi guru melaksanakan


 

pembelajaran di kelas. Kami menggunakan instrument pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat bersama pada sesi workshop sebagaimana terlihat pada tabel berikut. ( Terlampir)

 

Setelah selesai pembelajaran, selanjutnya penulis mengajak guru untuk melaksanakan refleksi. Penulis menggali pengalaman mengajar guru dengan menyampaikan beberapa pertanyaan pemantik, Bagaimana Bu, puas tadi ibu saat melaksanakan pembelajaran, apakah sudah tercapai tujuan pembelajarannya?”. bu Gomgom Madalena menyatakan bahwa Ia kurang puas dengan pembelajaran yang dilaksanakan. Ia masih melihat ada murid yang tidak aktif dan lambat merespon hal-hal yang menjadi topik pembelajaran. Selain itu, secara diferensiasi proses belum teraktualisasi dengan maksimal. Namun, Ia mendapati murid yang diluar kebiasaan selama ini yang Ia ketahui, Murid yang bernama Dego ternyata lebih mahir dan berani saat mewarnai apa yang diminta guru. Walau gambarnya belum terstruktur jelas, namun Ia sudah berani mengunakan cat air warna. Ia berharap kedepan akan diperbaiki dan lebih memperhatikan kebutuhan murid dalam merencanakan pembelajarannya.

Di Lembaga PAUD  Bintang Harapan Penulis memantau pelaksanaan

pembelajaran Ibu Tami sudah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi khususnya diferensiasi produk. Hal ini terlihat dari hasil belajar murid yang beragam dan di pajang oleh guru di depan kelas. 

 

REFLEKSI

Dari upaya-upaya yang telah dilakukan di atas dapat dilihat perubahan- perubahan sebagai berikut:

a.    Guru

Guru lebih memahami perencanaan pembelajaran yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, baik secara konten, proses, maupun produk. Guru lebih memiliki kompetensi dalam mengenali karakteristik murid. Lebih jauh 

 

lagi, guru sudah mau belajar mandiri dengan memanfaatkan PMM dan sudah menggunakan akun belajar.id yang dimilikinya. Guru merasa pertemuan bulanan HIMPAUDI, IGTKI dan PKG menjadi lebih bermakna karena diisi pembelajaran dan memperoleh hal-hal baru. Guru masih membutuhkan diskusi- diskusi untuk membicarakan perkembangan murid terutama karakteristik dan mengenali peserta didik belajar murid. Kreatifitas guru semakin meningkat,

,kolaborasi antar guru dalam meyiapkan materi dan media pembelajaran pun semakin baik.

 

b.   Pimpinan Lembaga

Pimpinan Lembaga memprogramkan dan memfasilitasi peningkatan kompetensi guru terutama pemanfaatan PMM dan senantiasa mendorong guru untuk terus belajar, dan berkreativitas, berinovasi Serta memfasilitasi guru dalam proses pembelajaran.

c.    Orang tua

Menjalin Kerjasama dan komunikasi yang baik dengan pihak sekolah tentang perkembangan anaknya terutama karakteristik, minat belajar, kesiapan belajar dan kebutuhan belajar anaknya. Membuat perubahan mindset bahwa pada usia belajar di KB/TK tidak memaksakan anak harus menguasai Calistung

d.   Penilik (penulis)

Hal baru yang penulis peroleh selama proses pelaksanaan kegiatan-kegiatan di atas adalah adanya semangat guru untuk terus belajar dan menerima perubahan. Penerimaan guru tentang pentingnya memahami karakteristik Peserta didik di awal pembelajaran. Lembaga binaan saya yang lain juga merasa puas dan paham setelah melihat langsung pembelajaran berdiferensiasi di PAUD Bintang harapan dan KB/TK Methodist. Untuk Tindak lanjut kedepan penulis terus melakukan pendampingan kepada Lembaga yg belum melakukan penerapan pembelajaran berdiperensiasi dieilayah binaan saya. Dan hal yang terpenting juga keberhasilah mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi harus terus bisa berkolaborasi bersinergi bersama sama dengan semua pihak.


 


 

 



Komentar